|
Tuesday, 23 October 2007 |
Oleh: DR. MOHD. ASRI ZAINUL ABIDIN
BERSIKAP adil terhadap kawan dan lawan amatlah sukar. Namun itulah tuntutan Islam yang agung ini. Hati manusia biasanya apa berpihak kepada orang yang disukai, sekalipun dia di pihak yang salah. Sukar pula untuk menyokong orang yang dibenci, sekalipun dia di pihak yang benar. Apabila perasaan tidak terkawal atau berdisiplin dengan ajaran Islam, maka insan biasanya akan mencari justifikasi untuk membela kesilapan orang disukainya. Dalam masa yang sama, dia mungkin akan mencari ruang untuk mempersalahkan musuh yang dibencinya. Sikap seperti ini menjadi barah kehidupan. Jika ia menguasai masyarakat, kebenaran akan terhapus dan kebatilan akan dibela.
Sikap ini hadir kadangkala disebabkan taksub yang berlebihan, atau kebencian yang berlebihan, atau sayang yang berlebihan, atau adanya kepentingan tertentu di sebalik kebencian yang dipamerkan atau sokongan yang diberikan. Hasilnya nanti, ketidakadilan hukuman atau penilaian akan berlaku. Kebenaran akan dinafikan hanya kerana kebencian. Kesalahan akan dinilai dengan kebaikan hanya kerana ketaksuban atau kecintaan atau kepentingan. Sebab itulah Islam memusuhi sikap yang seperti ini. Firman Allah dalam surah al- Maidah: 8: (maksudnya): Wahai orang- orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan. |
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 04 October 2007 |
Oleh: Syaikh Kholid Al-Anbari Hafizhahullahu
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, shahabat dan para
pengikut beliau sampai hari kiamat nanti, amma ba’du.
Majelis Kibrul Ulama Saudi Arabia setelah mempelajari dan memperhatikan
kejadian-kejadian yang dialami oleh negara-negara Islam dan selainnya
dari pengkafiran (sesama muslim), peledakan, dan tragedi berdarah serta
perusakan fasilitas umum serta pembantaian massal orang-orang yang
tidak bersalah, mereka menetapkan hal-hal berikut ini sebagai nasehat
dan sekaligus menghilangkan kerancuan yang ada dalam masalah ini,
hal-hal tersebut adalah:
[1]. Pengkafiran adalah hukum syari’at yang merupakan hak prerogratif
milik Allah dan RasulNya semata, sebagaimana penghalalan dan
pengharaman, mewajibkan dan melarang, semuanya itu adalah hak Allah dan
RasulNya. Tidaklah setiap perbuatan dan perkataan yang dikatakan kafir
pelakunya pasti kafir keluar dari Islam.
Jika kita telah mengetahui bahwa pengkafiran itu adalah hak Allah dan
RasulNya, maka kita tidak boleh mengkafirkan seorangpun kecuali yang
telah dikatakan kafir oleh Al-Qur’an dan Hadits dengan keterangan yang
jelas. Tidak cukup hanya sekedar prasangka belaka, karena hal ini
akibatnya sangat fatal/tragis dan berbahaya. Jika hudud (seperti hukum
rajam dsb) tidak bisa diterapkan pada suatu kasus karena adanya
kesamaran pada bukti-buktinya maka pengkafiran lebih utama untuk
ditiadakan karena akibatnya lebih buruk. Oleh karena itu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan serta mengancam
orang-orang yang megkafirkan orang muslim (tanpa ilmu), beliau bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (se agama) :
Wahai kafir, maka pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari
keduanya, jika dia benar dalam pengkafirannya (maka tidak mengapa),
tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya” [HR Al-Bukhari
: 6104 dan dalam riwayat lain Imam Muslim : 111 ‘Apabila seseorang
mengkafirkan saudaranya muslim …]
|
|
Read more...
|
|
|
Friday, 14 September 2007 |
|
Download: Visit my Multiply Site for more lectures: |
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 1 - 6 of 33 |